Monday, 25 April 2016

Larilah Bersama Sang Tekad



Semua orang punya impian. Mimpi setiap orang berbeda. Ketika temanku ingin menjadi pengusaha kaya raya agar bisa memiliki banyak mobil dan rumah, ada juga yang ingin menjadi dosen agar ilmu yang dimiliki bermanfaat. Menurut saya boleh-boleh saja. Lain dengan temanku, inilah aku. Manusia yang terlalu banyak memiliki mimpi, ataukah tidak punya mimpi? Mimpi-mimpiku tercatat rapi dalam coretan wishlist dan hanya aku yang mengetahui apa saja isinya, karena aku belum siap berbagi cerita dengan orang lain. Lebih tepatnya belum bertemu orang yang tepat untuk mengetahuinya. Dari semua itu, ada salah satu mimpi yang aku pikir semua laki-laki memimpikannya. Apakah punya istri cantik? Ya, mungkin saja. Punya harta berlimpah? Sangat mungkin. Atau menjadi pemain bola legendaris bagaikan Cristiano Ronaldo ataupun Lionel Messi? Mungkin sih. Semua yang ku sebutkan mungkin saja tersurat dalam buku impian kami (laki-laki), ataupun tersirat dalam angan yang setiap saat bisa saja menghampiri. Tapi mimpi yang membuatku selalu memikirkannya adalah cukup sederhana namun bermakna, aku ingin menjadi seorang laki-laki yang bisa diandalkan. Diandalkan oleh siapa saja, kapan saja, dalam hal apa saja. Susah? Ya jelas! Aku sempat heran, mimpi macam apa ini? Tapi sulit juga membuatnya menjadi kenyataan. Tak jarang demi mencapai impian ini datang berbagai kicauan dari orang lain. Mereka meremehkanku, menghinaku, tak percaya pada kemampuanku. Padahal aku paling benci diremehkan, pasti kalian semua juga kan? Bagaimana rasanya pasti kita tahu dan pernah merasakan. Ada pepatah mengatakan, kesuksesan dan keberhasilan adalah balasan sekaligus tamparan menyakitkan bagi orang yang gemar meremehkan. Tinggal bagaimana cara dan proses menuju pembuktian. Belajar! Praktekkan apa yang dipelajari. Sehingga setidaknya ada satu slot kepercayaan orang lain bahwa akulah laki-laki yang berguna, karena sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi orang lain. Bagi sebagian orang kata-kata itu hanyalah tulisan pelengkap kehidupan, namun bagiku itulah hakikat sesungguhnya manusia diciptakan. Sejauh ini, aku belum sepenuhnya bisa memetik hasil dari apa yang aku pelajari dan praktekkan. Tapi aku masih percaya pada sebuah proses, tak ada yang instan di dunia ini. Rasa ragu dari orang lain yang ditumpahkan kepadaku tak akan membuat tekadku surut, justru itulah motivasi bagiku agar aku bisa segera ‘menampar’ mereka dengan apa yang aku capai. Jangan berhenti, mari berbenah bersama. Jangan biarkan tekad yang kau genggam erat di tanganmu hanya akan kau genggam selamanya. Make it happen soon!